Minggu, 17 Februari 2013

Sungkah Jalma (Chapter 12) [E]


“Kenapa?!!!” Tanya Andriani sambil berteriak air matanyapun  terus keluar.
                “Ini sudah takdir, aku menunggumu puluhan tahun. Akhirnya kau datang” Jawab Andriani dengan nada bergetar. Andriani tak mampu berkata-kata lagi. Giginya bergemeletuk seperti orang kedinginan. Ia kesulitan bernapas selain karena kerahnya yang dicengkram, ditambah api disekitarnya.
                Mata Amel tiba-tiba terpejam, ia terjatuh kebelakang. Namun Wilhelmina tetap tak melepaskan cengkramannya. Wilhelmina telah berpisah dari Amel. Kini yang ada hanya sesosok gadis yang diselimuti api. Wajahnya terkelupas akibat luka bakar meski masih ada bagian wajahnya yang bisa terlihat. Api membakar menyelimuti tubuhnya. Darah segar mengucur deras dari kepalanya, membasahi rambut dan wajahnya. Matanya hitam.
                “Sekarang saatnya” Ucap Wilhelmina pelan diikuti bara api dari tubuhnya yang menjalar ke tubuh Andriani melalui tangannya yang mencengkram kerah Andriani.
                “AAA!!!!!” Jerit Andriani ketika api membakarnya. Ia menatap ngeri ketika tubuhnya dilahap api ddengan cepat. “Tuhan, selamatkan aku” doanya dalam hati. Keduanya diselimuti api. Didi dan Hugo sudah tak sadarkan diri, mungkin karena kehabisan oksigen atau tak tahan melihat api yang membakar Andriani dan gadis itu.
                Suara orang berlalu lalang disekitar Andriani seperti dengungan lebah. Dimana aku sekarang? Apa aku sudah mati?. Pikir Andriani.
                Andriani membuka matanya. Dihadapannya telah berdiri Paman Urip, Bibi Adinda dan Kak Kirana dan bayinya. Mereka mengelilinganya.
                “Syukurlah.. kau sudah sadar, kau sekarang di rumah sakit”Ucap Kirana sambil tersenyum. Bibi Adinda langsung mengecup dahi Andriani.  “Kami sangat takut..” Bisik Bibi Adinda.
                “Dimana yang lain? Apa yang terjadi?” Tanya Andriani sambil memperhatikan tangannya. Tak ada luka bakar disana. Aneh, yang ia ingat tubuhnya terbakar dan setelah itu semua hilang.
                “Yang lain ada dikamar lainnya, mereka sudah sadar lebih dulu. Kata Zo, kalian terjebak di kebakaran hutan jadi dia memanggil bantuan dan syukurlah. Kalian selamat” Jawab Kirana.
                “Amel?” Tanya Andriani pelan.
                “Dia ada diruang ICU, masih koma katanya ia mengalami dehidrasi hebat. Tapi ini mukjizat ia masih bisa bertahan dan kondisinya berangsur membaik” Terang Kirana sambil tersenyum. “Aku mau melihat Hugo dulu” Kirana pamit sambil melangkah keluar.
                Andriani menatap Paman Urip. Entah kenapa ia menjadi sangat membencinya semenjak ia mengetahui kalau obat yang selama ini diberikan pamannya adalah narkotika berbahaya. Urip menundukkan kepalanya tak berani menatap balas tatapan kebencian Andriani, ia pun segera pergi keluar kamar.
                “Mau kemana?” Tanya Bibi Adinda sambil mengikuti Paman Urip keluar kamar.
                Andriani tinggal sendiri di ruangan itu. Ia menatap langit-langit. Kosong. Namun seketika terbayang wajah Wilhelmina dan Alessa membayang. Ia sendiri masih tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Dimana Wilhelmina dan Alessa? Apa hubungan mereka?. Tanyanya dalam hati. Tapi ia bersyukur karena semua ini telah berakhir. Amel telah ditemukan dan tak ada seorang pun yang mati dalam pencarian ini. Andriani tersenyum untuk menenangkan diri dan berusaha untuk tidur kembali mempersiapkan diri menyambut hari esok yang dipenuhi kebahagiaan kembali.
                Ia tidak menyadari kalau sedari tadi di pojok kamarnya telah berdiri sesosok gadis eropa yang terus mengamatinya dengan tatapannya yang kosong dan menyimpan misteri, tak ada yang menyadari keberadaannya karena ia berada di dimensi yang berbeda. Ia menatap Andriani sambil menyenandungkan sebuah lagu. Lagu kematian.


(Bersambung ke Sungkah Jalma 2 (The Damned Revelation)

Rabu, 13 Februari 2013

Sungkah Jalma (Chapter 11) [E]


Bruk!, Krak!. Andriani yang berlari paling belakang terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup keras. Mungkin ia patah tulang akibat terjatuh. Yang lainnya menghentikan pengejaran dan menghampiri Andriani yang tersungkurdan membantunya untuk duduk.
                Keringat mengucur dari tubuhnya, napasnya berhembus tak teratur, Andriani benar-benar kelelahan.
                “Sebaiknya kita kembali dulu ke mobil” Pinta Hugo.
                “Tapi Amel bagaimana?” Protes Joko.
                “Kita bisa kejar dia besok, kelihatannya tulang kaki Andriani patah, kita harus membawanya ke rumah sakit” Ucapnya dengan wajah cemas setelah melihat kaki Andriani yang patah dan berbelok membentuk sudut 90 derajat pada bagian tulang kering kakinya. Andriani menggigit bibirnya, berharap itusedikit membantunya menahan sakit.
                Ditengah kebingungan itu, tiba-tiba sesosok perempuan telah berdiri dibelakang mereka.
                “Amel” Ucap Didi tanpa mengeluarkan suara. Sementara yang lain belum menyadari karena posisi mereka memebelakangi Amel.
                Amel mengangkat tangannya. Entah apa yang terjadi, semua terpental begitu saja. Joko pingsan setelah kepalanya terbentur batu. Sementara Zo yang terlempar cukup jauh langsung melarikan diri. Hugo terjatuh bersebelahan dengan Didi. Dan Andriani tetap ditempatnya, terduduk, tak bisa bersuara dan dilanda ketakutan yang besar begitu Amel mendekatinya dan berjongkok dihadapannya.
                Hugo ingin bergerak tapi entah apa yang membuatnya tidak mampu menggerakkan badannya.
                “Lihat disekeliling kita” Bisik Didi sambil memperhatikan sekeliling mereka. Hugo menggerakkan bola matanya. Mayat.. gantung diri… ini adalah tempat bunuh diri di Sungkah Jalma.
                Mayat-mayat yang berjumlah banyak itu terlihat berserakan disekeliling mereka, posisinya bermacam-macam. Ada yang tergantung di pohon dan ada yang terduduk begitu saja dibawah pohon.
                Amel mencengkram kerah jaket Andriani. Keduanya berdiri kali ini. Saling bertatapan. Andriani sudah mengeluarkan air matanya. Ia benar-benar ketakutan.
                “Lepaskan aku…” Pinta Andriani sambil terus menangis. Hugo dan Didi hanya bisa memperhatikan dan tak mampu bergerak sedikitpun.
                “Andi…” Bisik Amel pelan. Andriani tahu ini bukan Amel, suaranya berbeda.
                “A..A-Apa mau mu?” Tanya Amel ketakutan.
                “Aku Wilhelmina” Jawab Amel dengan nada bergetar. Matanya masih memancarkan kehampaan.”Aku menginginkanmu” Sambungnya. Wilhelmina? Andriani langsung teringat dengan cerita hantu yang diceritakan Zo, dan gadis dalam mimpinya itu.
                Sekejap hutan disekeliling mereka terbakar. Didi dan Hugo menutup hidung dan mulut mereka agar tidak sesak.

Selasa, 12 Februari 2013

Sungkah Jalma (Chapter 10) [E]


“Amel!!!!” Teriak Andriani yang terus mengejar Amel. Amel terus berlari. Aneh, ia tak kelihatan seperti Amel yang biasanya. Kakinya penuh luka, mungkin tergores ranting di hutan. Biasanya Amel akan menangis bila terluka sedikit saja, tapi kali ini… sesuatu telah merasuki tubuhnya.
                “Amel!!!!” Teriak Andriani lagi. Teriakan Andriani ternyata terdengar oleh Hugo, Didi, Joko dan Zo yang telah berada di dalam hutan.
                “Andriani sepertinya menemukan Amel, ayo kita kejar!” Perintah Hugo pada yang lainnya. Mereka berlari ke arah teriakan Andriani. Mereka akhirnya bertemu.
                “Dia ada disana!” Teriak Andriani sambil menunjuk ke depannya. Aneh. Tak ada seorangpun didepannya.
                Hugo, Didi, Joko dan Zo berhenti tepat disebelah Amel.
                “Mana.. tak ada siapa-siapa disini” Ucap Joko kesal.
                “Aku bersumpah tadi aku melihat Amel” Andriani membela diri.
                “Bagaimana kondisinya?” Tanya Hugo.
                “Kotor, kusut pokoknya gak terawat, dan kelihatannya dia kerasukan” Jelas Andriani.
                “Kau berhalusinasi lagi” Ucap Joko sinis.
                “Aku mohon, percayalah.. lagipula aku gak ada mengkonsumsi obat” Andriani memelas.
                “Bagaimana caramu melepaskan ikatan?” Tanya Didi tiba-tiba. Andriani tak mampu menjawab, ia yakin yang lain pasti tak akan percaya kalau Alessa yang melepaskannya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Amel?, apa itu Amel.. kenapa ia bersembunyi dibalik pohon. Andriani melihat Amel yang mengintip dari balik pohon. Tapi tak lama Amel kembali berlari.
                “Itu Amel!” Teriak Hugo dan langsung berlari mengejarnya, begitupula dengan yang lainnya.
                Tak terasa mereka terus berlari dan berlari mengejar Amel yang terus memasuki hutan. Kaki Andriani sendiri telah dipenuhi luka akibat tersandung batu atau tergores duri dan ranting, tapi semua itu tak dirasakannya lagi. Satu-satunya tujuannya kali ini hanya menangkap Amel dan segera pergi dari hutan yang mengerikan ini.