“Kenapa?!!!” Tanya Andriani sambil
berteriak air matanyapun terus keluar.
“Ini
sudah takdir, aku menunggumu puluhan tahun. Akhirnya kau datang” Jawab Andriani
dengan nada bergetar. Andriani tak mampu berkata-kata lagi. Giginya
bergemeletuk seperti orang kedinginan. Ia kesulitan bernapas selain karena
kerahnya yang dicengkram, ditambah api disekitarnya.
Mata
Amel tiba-tiba terpejam, ia terjatuh kebelakang. Namun Wilhelmina tetap tak
melepaskan cengkramannya. Wilhelmina telah berpisah dari Amel. Kini yang ada
hanya sesosok gadis yang diselimuti api. Wajahnya terkelupas akibat luka bakar
meski masih ada bagian wajahnya yang bisa terlihat. Api membakar menyelimuti
tubuhnya. Darah segar mengucur deras dari kepalanya, membasahi rambut dan
wajahnya. Matanya hitam.
“Sekarang
saatnya” Ucap Wilhelmina pelan diikuti bara api dari tubuhnya yang menjalar ke
tubuh Andriani melalui tangannya yang mencengkram kerah Andriani.
“AAA!!!!!”
Jerit Andriani ketika api membakarnya. Ia menatap ngeri ketika tubuhnya dilahap
api ddengan cepat. “Tuhan, selamatkan aku” doanya dalam hati. Keduanya
diselimuti api. Didi dan Hugo sudah tak sadarkan diri, mungkin karena kehabisan
oksigen atau tak tahan melihat api yang membakar Andriani dan gadis itu.
Suara
orang berlalu lalang disekitar Andriani seperti dengungan lebah. Dimana aku
sekarang? Apa aku sudah mati?. Pikir Andriani.
Andriani
membuka matanya. Dihadapannya telah berdiri Paman Urip, Bibi Adinda dan Kak
Kirana dan bayinya. Mereka mengelilinganya.
“Syukurlah..
kau sudah sadar, kau sekarang di rumah sakit”Ucap Kirana sambil tersenyum. Bibi
Adinda langsung mengecup dahi Andriani.
“Kami sangat takut..” Bisik Bibi Adinda.
“Dimana
yang lain? Apa yang terjadi?” Tanya Andriani sambil memperhatikan tangannya.
Tak ada luka bakar disana. Aneh, yang ia ingat tubuhnya terbakar dan setelah
itu semua hilang.
“Yang
lain ada dikamar lainnya, mereka sudah sadar lebih dulu. Kata Zo, kalian
terjebak di kebakaran hutan jadi dia memanggil bantuan dan syukurlah. Kalian
selamat” Jawab Kirana.
“Amel?”
Tanya Andriani pelan.
“Dia
ada diruang ICU, masih koma katanya ia mengalami dehidrasi hebat. Tapi ini
mukjizat ia masih bisa bertahan dan kondisinya berangsur membaik” Terang Kirana
sambil tersenyum. “Aku mau melihat Hugo dulu” Kirana pamit sambil melangkah
keluar.
Andriani
menatap Paman Urip. Entah kenapa ia menjadi sangat membencinya semenjak ia
mengetahui kalau obat yang selama ini diberikan pamannya adalah narkotika
berbahaya. Urip menundukkan kepalanya tak berani menatap balas tatapan
kebencian Andriani, ia pun segera pergi keluar kamar.
“Mau
kemana?” Tanya Bibi Adinda sambil mengikuti Paman Urip keluar kamar.
Andriani
tinggal sendiri di ruangan itu. Ia menatap langit-langit. Kosong. Namun
seketika terbayang wajah Wilhelmina dan Alessa membayang. Ia sendiri masih tak
mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Dimana Wilhelmina dan Alessa? Apa
hubungan mereka?. Tanyanya dalam hati. Tapi ia bersyukur karena semua ini telah
berakhir. Amel telah ditemukan dan tak ada seorang pun yang mati dalam
pencarian ini. Andriani tersenyum untuk menenangkan diri dan berusaha untuk
tidur kembali mempersiapkan diri menyambut hari esok yang dipenuhi kebahagiaan
kembali.
Ia
tidak menyadari kalau sedari tadi di pojok kamarnya telah berdiri sesosok gadis
eropa yang terus mengamatinya dengan tatapannya yang kosong dan menyimpan
misteri, tak ada yang menyadari keberadaannya karena ia berada di dimensi yang
berbeda. Ia menatap Andriani sambil menyenandungkan sebuah lagu. Lagu kematian.
(Bersambung ke Sungkah Jalma 2 (The Damned Revelation)